BeritaHukrim

Guncangan Jiwa dr. Icha: Dari Dokter Ceria Jadi Introvert Hingga Upaya Bunuh Diri

6
×

Guncangan Jiwa dr. Icha: Dari Dokter Ceria Jadi Introvert Hingga Upaya Bunuh Diri

Sebarkan artikel ini
Dokter dr. Icha Pakaenoni, diduga mengakhiri hidup karena tekanan batin dari oknum Anggota DPRD Asal TTU. Foto: Istimewa

Kupangonline.com,Kupang, Sabtu, 27 Juni 2026 – Senyumnya dulu yang paling diingat sejawat dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau dr. Icha (27), dikenal tenang, humanis, dan ceria di ruang IGD RS Leona Kefamenanu. Enam hari setelah dugaan intimidasi dua anggota DPRD TTU, senyum itu padam.

Ia berubah menjadi sosok yang pendiam, menarik diri, hingga akhirnya tak sanggup lagi bertahan.

“Kepribadian anaknya itu tenang humanis dan ceria. Namun pasca kejadian ini dia agak pendiam habis itu jadi introvert,” kata Fabianus Banase, paman sekaligus juru bicara keluarga, di rumah duka, Sabtu (27/6/2026).

Fabianus bercerita, keponakannya hanya berkomunikasi dengan orang terdekat setelah kejadian 13 Juni 2026. Dunia dr. Icha mengecil, hanya diisi suara paman dan ayah kecilnya, Viktor Manbait di Kefamenanu.

“Dia itu depresi berat. Dia juga introvert jadi. Dia hanya komunikasi dengan saya, dengan bapa kecilnya sama pak Viktor. Selain itu, dia lebih banyak diam,” ujarnya.

Telepon-telepon itu berisi kalimat yang sama berulang, takut dan ingin pulang.

“Dia sempat omong bapa saya stres, saya mau pulang Kefa lagi saya trauma,” kata paman Almarhum.

Puncaknya adalah kalimat yang membuat keluarga terpukul.

“Dia sempat omong bilang biar saya mati saja, supaya tidak ada korban nakes yang lain… Dia bilang bapa biar Icha saja yang pergi, supaya jangan ada korban Icha-Icha yang lain lagi,” ujar pamannya.

Diagnosis: Guncangan Hebat dan Upaya Bunuh Diri

Menurut keluarga, dr. Icha sempat menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya, ia mengalami guncangan hebat hingga melakukan percobaan bunuh diri.

Ia dirawat medis sejak 15 Juni 2026 selama enam hari. Kondisinya membaik, lalu dipulangkan 21 Juni 2026 untuk rawat jalan. Tapi luka batinnya tak ikut pulang.

“Yang menjadi penyesalan dari Icha ini kedua anggota dprd ini mereka menyangkal apa yang mereka buat. Mereka bilang mereka tidak mengintimidasi, mereka hanya nada tinggi katanya. Saya juga bingung membedakan nada tinggi dan bentak itu seperti apa,” terang Fabianus.

Dua anggota DPRD TTU yang disebut, Norbertus Tubani dari PKB dan Therensius Lazakar dari Golkar, sebelumnya membantah. Mereka mengaku hanya panik karena pasien gigitan ular.

Surat Wasiat di Kamar Lantai Dua

Jumat (26/6/2026) pukul 17.55 Wita, dr. Icha ditemukan meninggal gantung diri di lantai dua rumah orangtuanya, Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang.

Di kamar itu ada dua handphone dan selembar surat.

“Semacam surat wasiat begitu tapi saya lupa isinya apa, sekarang surat dan handphone itu ada di penyidik sekarang,” ujar Fabianus.

Pemeriksaan luar RS Bhayangkara Kupang tidak menemukan tanda kekerasan. Keluarga menolak autopsi. Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Baumata.

“Kami berharap seluruh tenaga medis dapat memperoleh perlindungan sehingga dapat menjalankan tugas kemanusiaan dengan aman,” tutup dia.

Kronologi Awal dr. Icha Diduga Mendapat Intimidasi Anggota DPRD TTU

Kasus ini mencuat setelah dr. Icha diduga diintimidasi saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu. Menurutnya, dr. Icha menjalankan tugas sesuai SOP dan arahan dokter spesialis anak.

Persoalan muncul ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang secara medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Dua pria yang mengaku anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang perawatan dan protes dengan nada tinggi. Salah satunya disebut menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.

“Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” kata Victor.

Akibat peristiwa itu, dr. Icha mengalami tekanan psikologis hingga menangis saat bertugas. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dirawat medis setelah ditemukan lemah di tempat tinggalnya.

Dua anggota DPRD TTU yang disebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah melakukan intimidasi.

“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi,” kata Therensius.

Therensius menjelaskan, keponakannya korban gigitan ular hijau dibawa ke RSUD Kefamenanu 13 Juni 2026 pukul 12.50 Wita. Karena tidak ada dokter bedah dan serum anti bisa ular, pasien dirujuk ke RS Leona.

Keluarga panik karena pasien terus sakit dan belum mendapat penjelasan yang cukup.

“Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter,” ujar Therensius.

Ia menyebut situasi mereda setelah dokter lain menjelaskan darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular dan serum anti bisa memang tidak tersedia.

Norbertus menambahkan, setelah mendapat penjelasan lengkap mereka minta maaf ke Direktur RS Leona, dokter, dan nakes IGD.

“Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat dan kini telah kembali ke rumahnya di Kiupukan,” kata Norbertus. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *