Kupangonline.com,LARANTUKA, 28/08/2026 – Upaya memperkuat perlindungan masyarakat Flores Timur dari risiko keberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural terus mendapat perhatian serius. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, termasuk melalui sinergi antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi NTT dan Keuskupan Larantuka.
Komitmen tersebut mengemuka dalam silaturahmi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi NTT, Saroha Manullang, bersama Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di Istana Keuskupan Larantuka. Dalam kesempatan tersebut, Kakanwil Imigrasi NTT didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi NTT, Linda Saroha Manullang.
Kehadiran layanan secara berkala menjadi langkah nyata untuk mendekatkan pelayanan keimigrasian kepada masyarakat Flores Timur. Di sisi lain, keberadaan layanan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi pengawasan serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan keimigrasian.
Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan adalah keberadaan PMI asal Kabupaten Flores Timur. Mobilitas masyarakat Flores Timur untuk mencari peluang kerja di luar daerah maupun luar negeri menjadi perhatian bersama, terutama dalam memastikan masyarakat memiliki informasi yang memadai sebelum memutuskan untuk bekerja ke luar negeri.
Kakanwil Imigrasi NTT, Saroha Manullang, menekankan bahwa pencegahan PMI nonprosedural harus dilakukan sejak dari hulu, yakni melalui peningkatan pemahaman masyarakat.
“Kita tidak ingin masyarakat berangkat ke luar negeri tanpa mengetahui prosedur dan risiko yang akan dihadapi. Karena itu, edukasi menjadi sangat penting. Masyarakat harus memahami bahwa bekerja ke luar negeri harus melalui jalur yang legal, sehingga hak dan perlindungannya dapat lebih terjamin,” ujar Saroha.
Menurutnya, persoalan PMI nonprosedural tidak cukup ditangani melalui pendekatan penindakan. Upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kedekatan langsung dengan warga, termasuk tokoh agama.
Dalam konteks Flores Timur, Keuskupan Larantuka dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran masyarakat. Pendekatan persuasif melalui komunitas keagamaan dinilai dapat menjadi instrumen efektif untuk menyampaikan informasi mengenai migrasi yang aman dan legal.
Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, menyambut baik langkah kolaboratif yang dibangun bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi NTT. Menurutnya, persoalan masyarakat yang hendak bekerja ke luar negeri perlu mendapatkan perhatian bersama agar keputusan untuk merantau tidak justru menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Ia menambahkan bahwa pendekatan kepada masyarakat tidak dapat hanya dilakukan secara formal, tetapi perlu hadir melalui komunitas dan lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.
“Kita perlu hadir bersama-sama di tengah masyarakat. Gereja mempunyai jaringan sampai ke komunitas-komunitas umat, sementara Imigrasi memiliki pengetahuan dan kewenangan di bidang keimigrasian. Kalau ini dipadukan, tentu pesan yang disampaikan kepada masyarakat akan lebih kuat,” ujar Mgr. Hans Monteiro.
Kolaborasi Imigrasi dan Keuskupan Larantuka ke depan dapat diperkuat melalui berbagai program edukasi masyarakat, termasuk Desa Binaan Imigrasi. Program tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya dokumen keimigrasian, migrasi yang aman dan legal, serta risiko yang dapat muncul akibat keberangkatan secara nonprosedural.
Sinergi tersebut juga menjadi bentuk pendekatan preventif dan persuasif dalam pelaksanaan tugas keimigrasian. Dalam pertemuan tersebut turut dibahas komitmen bersama untuk mendukung percepatan pendirian Kantor Imigrasi definitif di Larantuka.
Kolaborasi Imigrasi dan Keuskupan Larantuka diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang lebih humanis melalui edukasi yang intensif, komunikasi yang persuasif, serta keterlibatan langsung di tengah masyarakat.( Xx)












