Berita

Antrian PKM Kecamatan Toianas Padati Kantor Pos Soe, Buntut Pemukulan Terhadap Petugas Kantor Pos Soe

×

Antrian PKM Kecamatan Toianas Padati Kantor Pos Soe, Buntut Pemukulan Terhadap Petugas Kantor Pos Soe

Sebarkan artikel ini

Ket. Foto: Nampak Anggota DPRD TTS, Marthen Tualaka sedang berbincang dengan kepala kantor pos soe.

Laporan Reporter SUARA TTS. COM, Dion Kota.

SUARA TTS. COM | SOE – Warga Kecamatan Toianas, Selasa 6 Desember memadati Kantor Pos Soe guna mengambil Bantuan Sosial (Bansos) PKH, Bansos BBM dan Bansos Sembako. Tak kurang dari 1000 warga Toianas nampak mengantri sejak pagi untuk bisa mengambil jatah Bansosnya. Hingga pukul 13.00 WITA, nampak antrean warga di halaman samping kantor pos soe belum juga surut.

Antrean warga Toianas di kantor soe merupakan pemandangan yang langka. Pasalnya selama ini, pihak Kantor Pos Soe  langsung mendatangi kantor Kecamatan Toianas untuk membagikan Bansos kepada Kelompok Penerima Manfaat (KPM). Namun karena adanya insiden pemukulan petugas kantor pos di kantor kecamatan Toianas pada April lalu, petugas kantor pos soe menjadi takut untuk turun ke kecamatan Toianas.

Oleh sebab itu, pelayanan pembayaran Bansos dialihkan ke kantor pos soe. Kebijakan ini memaksa masyarakat Kecamatan Toianas yang masuk KPM untuk mengeluarkan uang tambahan agar bisa mencapai kantor pos soe.

“ Kami pulang-pergi bayar ongkos 150 ribu per orang. Kami berangkat dari kampung masih pagi-pagi untuk bisa mengantre paling depan di kantor pos soe. Padahal selama ini biasanya kami ambil Bansos di kantor kecamatan,” ujar salah seorang ibu yang sedang mengantre di kantor pos soe.

Marthen Tualaka, Anggota DPRD TTS, Selasa siang langsung mendatangi kantor pos soe guna bertemu dengan kepala kantor pos soe, Kornelius Lako. Dirinya meminta adanya solusi untuk warga Toianas sehingga pelayanan pembayaran Bansos bisa kembali dilakukan di kantor kecamatan.

“ Kasihan orang tua mereka (KPM asal Kecamatan Toianas) dari kampung jam 4 atau 5 pagi naik pick ke kantor pos soe. Mereka harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk menyewa pick up untuk mengantar mereka ke kota soe. Saya mau kita ( DPRD TTS dan kantor pos) cari jalan keluar atau solusi sehingga pelayanan bisa kembali dilakukan di kantor kecamatan,” pinta Marthen kepada Kornelius.

Kepada Marthen, Kornelius mengaku, para petugas kantor pos soe masih ketakutan untuk datang ke kantor kecamatan Toianas guna melayani pembayaran Bansos. Kasus pemukulan petugas kantor pos saat membagikan Bansos pada April lalu masih meninggalkan troma.

Apa lagi, pelaku masih berkeliaran walaupun kasus tersebut sudah dilaporkan ke pihak kepolisian. “ Kasus ini sudah kami laporkan ke pihak kepolisian. Korban sudah divisum tapi pelaku masih bebas. Petugas kami merasa tidak aman dan takut turun ke Toianas untuk melakukan pelayanan. Sehingga kita putuskan, PKM kecamatan Toianas dilayani di kantor pos soe,” terang Kornelius. Ket foto : Nampak antrean panjang PKM kecamatan Toianas di kantor pos soe guna mengambil pembayaran Bansos (PKH, Bansos BBM dan Bansos Sembako).

Jika proses hukum memang tak bisa jalan, Kornelius meminta agar pelaku bersama keluarga pelaku untuk datang dan meminta maaf atas kejadian pemukulan tersebut. Setelah itu, pihak kecamatan bersama desa harus membuat surat pernyataan bersedia menjamin keamanan dan kenyamanan petugas kantor pos saat melakukan pelayanan kembali ke kecamatan Toianas.

“ Sampai sekarang saja kami tidak pernah dapat surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidik (SP2HP) laporan kami seperti apa. Terlepas dari proses hukum, kami berharap pelaku dan keluarga pelaku bisa datang meminta maaf atas kejadian tersebut. Itu saja sudah cukup untuk kami, soal perkara hukum kami tidak terlalu menuntut,” sebutnya.

Mendengar pernyataan Kornelius, Marthen langsung menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi pertemuan pelaku bersama sekeluarga pelaku dengan pihak kantor pos. Selain itu, dirinya juga akan memfasilitasi pertemuan para kepala desa sekecamatan Toianas dengan pihak kantor pos.

“ Kalau pelaku memang sulit saya ajak ke sini, minimal saya akan bawa keluarga pelaku bersama para kepala desa serta camat Toianas ke sini ( Kantor Pos Soe) guna menjawab permintaan pihak kantor pos,” sebutnya.

Terkait proses hukum terhadap pelaku, Marthen mengatakan, dirinya akan membangun komunikasi dengan Kapolres agar kasus tersebut menjadi prioritas mengingat pelaku sudah beberapa kali terlibat kasus yang sama.

“ Saya akan bertemu dengan Pak Kapolres dan minta bantuan beliu agar pelaku bisa segara diamankan dan kasus tersebut bisa menjadi prioritas,” pungkas Politisi Hanura ini. (DK)

Editor : Erik Sanu 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemprov NTT Lakukan Gerakan Pangan Murah Di Kabupaten TTS Kupangonline.com,KUPANG— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Perum Bulog serta Bank NTT Cabang Soe menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sejak Kamis (16/5/24) hingga Jumat (17/5/24) lalu di sejumlah titik di Kabupaten TTS. Adapun GPM ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda yakni di Kelurahan Cendana Kecamatan Kota Soe dan di Desa Taneotob yang juga diikuti oleh masyarakat Desa Noebesi yang terletak di Kecamatan Nunbena sejak Kamis (16/5) hingga Jumat (17/5/24). GPM ini menyediakan sejumlah kebutuhan pokok masyarakat dengan rincian di Kelurahan Cendana Kecamatan Kota Soe, 5.000 Kg Beras Medium, 200 Kg Beras premium, 100 Kg Gula Beras Kita, 20 Kg tepung, 20 Kg Bawang merah dan Bawang putih, Minyak Goreng Selfie 90 Liter, Minyak Goreng Damai 60 Liter, Minyak goreng kita 240 Liter. Sedangkan Desa Taneotob dan Desa Noebesi yang terletak di Kecamatan Nunbena dengan rincian 2.000 Kg Beras, 60 Botol minyak goreng dan 50 Kg Gula pasir dan 100 paket sembako yang terdiri atas beras dan gula pasir oleh Bank NTT Cabang Soe. Kegiatan GPM telah menjadi agenda Pemprov NTT yang terus digelar di seluruh Kabupaten/Kota di NTT dalam rangka pengendalian Inflasi untuk menjaga stabilitas pasokan harga pangan yang cenderung naik akibat sejumlah faktor seperti gagal panen dampak perubahan iklim ekstrim hingga terjadinya kemarau panjang dan waktu panen Petani tidak menentu. Desa Taneotob, Kecamatan Nunbena merupakan salah satu desa yang turut menyebabkan tingginya angka inflasi di Kabupaten TTS. Bahkan untuk memasok bahan pangan serta sembako lainnya agar dapat memenuhi kebutuhan warga di desa itu butuh perjuangan keras, dikarenakan sulitnya akses jalan menuju wilayah desa tersebut dikarenakan harus melintasi sejumlah anak sungai. Untuk diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Inflasi di kabupaten tersebut pada bulan April 2024 (YoY) sebesar 1,83 persen. Melalui GPM yang secara terus menerus dilaksanakan oleh Pemprov NTT bekerjasama dengan para distributor terkait diharapkan dapat mengantisipasi daya beli masyarakat terhadap kebutuhan bahan pokok pangan dengan harga terjangkau dibawah harga pasar.( Tim )
Berita

  Kupangonline.com,KUPANG— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama…