Cerpen

Teras Rumah, Desah Hujan, Basah Malam, dan Perihal Masa Depan Anak Kita

47
×

Teras Rumah, Desah Hujan, Basah Malam, dan Perihal Masa Depan Anak Kita

Sebarkan artikel ini






_Oleh Paji Hajju (Masyarakat di Bumi Flores Timur)_

 

Suatu hari di sebuah pagi yang gerimis, suara hujan menggema, menari-nari di atap rumah keluarga kecil kami. Udara yang segar, suasana tentram penuh syukur, tanaman lagi subur, dan lembab membawa aroma tanah basah yang menenangkan jalan pikiran, sejenak. Dari depan teras, aku, kamu, dan anak kita nomor dua yang teramat cantik itu duduk bersama. Sesekali menikmati kopi panas, wedang ronde, cokelat panas, dan di temani pisang goreng, jagung titi serta ubi jalar kesukaan Bapak kalau berkunjung saat ada waktu luang. Anak kita, dia, dengan mata cerahnya, tampak penuh semangat meski suasana mendung menghampiri kita.

 

Kita memegang masing-masing mangkuk; aku dengan secangkir kopi hangat, kamu menyeduh wedang ronde, dan anak kita yang terus saja menghirup cokelat panas, sembari kita berdua membicarakan masa depan pendidikan anak-anak. “Biaya pendidikan semakin mahal, ya,” katamu sambil menatap jauh ke arah jalan yang basah, kuyup. Suara hujan membuat kita lebih dekat, seolah-olah dunia luar tak ada artinya kecuali kita bertiga. Aku, kamu, dan anak kita nomer dua yang sedang cantik-cantiknya itu. “Apa saja biaya yang harus dibayar saat mendaftar ke sekolah/universitas?” imbuhmu lanjut, sesekali dengan berat hati mengunyah jagung titi yang telah lama bersemayam di mulutmu.

 

Anak kita, dengan gelagat penasaran, bertanya, “Apa itu pendidikan, Bu?” “Apakah pendidikan di Indonesia gratis, Pa?” “Berapa persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke pendidikan gratis, yaa?” Pertanyaan polosnya membawa kita kembali ke momen-momen ketika kita berjuang meraih mimpi. Kita tersenyum, mengenang saat-saat ketika kita juga berjuang di bangku sekolah. Dengan tugas yang menumpuk, setor perihal nama-nama para Malaikat beserta tugasnya, membawa sejerigen air ketika berangkat ke sekolah, dan tak lupa pula untuk tetap mempertahankan prestasi.

 

“Kita ingin tumbuh kembang kamu dan bisa bersekolah dengan baik, sayang,” kataku menjelaskan. “Perihal biaya sekolah perbulan, di sekolah negeri/swasta, uang seragam, dan perlengkapan lainnya serta kita sisipkan sedikit uang jajan untukmu!” “Pendidikan adalah kunci untuk meraih impianmu.” “Tujuan dari pendidikan ya mengembangkan kemampuan intelektualmu, emosional, dan sosial serta menanamkan karakter dan nilai-nilai moralmu, cantik.” Tandasku penuh perhatian. Kamu mengangguk setuju, sambil mengelus kepala anak kita. Cinta kita bersemi dalam setiap kata yang kita ucapkan, penuh tabah.

 

Setiap kali kita berbicara tentang masa depan, aku merasa semakin bersemangat karena denganmu dan anak kita yang selalu menghangatkan hati saat masih pagi buta ataupun juga saat senja beranjak dari mata. Kita bukan hanya membicarakan biaya pendidikan, tetapi juga harapan dan impian yang ingin kita capai untuk anak-anak kita. Mengobrol dan bercerita apa saja asalkan bersamamu, semisal; masalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, kesenjangan ekonomi, inflasi, pencemaran lingkungan, dan penyakit menular serta gizi buruk. Hujan di luar seolah-olah menambah kehangatan di hati kita. Sesekali, rayuan maut yang aku kirimkan di ronanya bibirmu dan kau pun melahapnya dengan sempurna.

 

“Aku melihatmu mengeluarkan kalkulator kecil dari dalam tasmu dan mulai menghitung biaya pendidikan anak kita, matamu bersinar dengan penuh keteguhan. Aku merasa hati ini bergetar, melihatmu begitu serius merencanakan masa depan kita dan anak kita yang nomer dua.” “Jika kita menabung sedikit demi sedikit, semoga kita bisa mencapainya,” katamu dengan penuh keyakinan. Aku merasa sangat beruntung memiliki kamu di sisiku, kamu yang selalu memiliki rencana dan tujuan yang jelas dan matang. Kamu membuatku merasa aman, nyaman serta percaya diri, dan aku tahu bahwa bersamamu, kita bisa mencapai apa saja yang kita impikan.

 

Anak kita memandang kita dengan penuh perhatian, dan tiba-tiba ia berseru, “Aku mau jadi dokter, Ma, Pa!” Ucapannya yang spontan membuat kita tertawa, namun kita tahu betapa seriusnya impian itu. “Dokter yang baik harus belajar banyak, ya,” balasmu sambil tetap bermain-main dengan rimbunnya rindu di dada, mengedukasi dengan ia dengan lembut. Senyum ceria anak kita membuatku yakin bahwa semua pengorbanan dan usaha yang kita lakukan akan berbuah manis, asalkan selalu libatkan Tuhan didalamnya, dan tetap selalu berusaha untuk membangun masa depan yang cerah bagi dirinya.

 

Hujan mulai reda, dan sinar matahari perlahan muncul di balik awan. “Lihat, sayang, pelangi!” seruku, menunjuk ke arah langit. Anak kita berlari ke pagar teras, melupakan semua kekhawatiran yang sempat menghimpit kita. Kita berdua saling berpandang, merasakan kebahagiaan sederhana yang tak ternilai. Namun, di tengah momen indah ini, pikiran kita tak bisa lepas dari realitas yang menyakitkan; pemerintah yang seharusnya melindungi rakyat justru sering kali abai, mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat yang terus terabaikan. Ketidakadilan dan ketidakpastian yang menyelimuti kehidupan sehari-hari membuat pelangi ini terasa pahit, seolah mengingatkan kita akan janji-janji manis yang tak pernah ditepati.

 

Dalam kehangatan itu, ketika tatapanku menemukan matamu yang penuh harapan, aku menyadari bahwa cinta kita adalah fondasi dari semua impian ini. Setiap detik yang kita habiskan bersama adalah langkah menuju masa depan yang kita impikan, di mana kita saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Diskusi-diskusi hangat tentang cita-cita dan rencana hidup mengalir begitu alami, seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti. Tak peduli seberapa berat tantangan yang menghadang, aku tahu bahwa kita akan selalu bersama, berpegangan tangan dan melangkah maju, menciptakan cerita indah yang hanya bisa ditulis oleh dua hati yang saling mencintai.

 

Setelah hujan reda, kita melangkah keluar, menyusuri halaman rumah yang berkilau di bawah sinar mentari yang lembut. “Kita harus mencari cara untuk menyiapkan tabungan pendidikan anak kita,” kataku, sambil menatapmu dengan penuh harapan. Kamu mengangguk, senyummu merekah seperti pelangi yang muncul setelah hujan, dan tawamu menggema di antara tetes air yang masih tersisa. Dalam kebahagiaan itu, rasanya dunia seakan berhenti berputar; hanya ada kita, impian-impian yang bersinar, dan janji untuk membangun masa depan bersama. Setiap langkah kita seolah menuntun pada petualangan baru, di mana cinta dan komitmen menjadi pilar bagi segala rencana yang kita ukir.

 

Di tengah perbincangan, kamu berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan penuh arti. “Aku percaya, dengan kerja keras dan cinta, kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.” Kamu mengulurkan tanganmu, dan aku menggenggamnya erat. Rasa syukur mengalir dalam hatiku. Tapi kamu sedikit menggerutu, perihal; pajak dikorupsi, bensin dioplos, buka usaha dipalak, kasih kritik kena UU ITE, ngelawan begal jadi tersangka, punya kasus dijadiin duta, hukuman koruptor dikorting, nyari kerja diluar negeri gak nasionalis, laut dipagari, hutan dibalak tanam sawit, SHM dipalsuin, dan pendidikan mahal bagus serta pendidikan murah ke laut aja lu. Tanyamu berhamburan keluar tanpa permisi dan menerka-nerka jawaban dari bangku kekuasaan yang gemuk. Sesekali, tubuhmu berkeringat dan kau diami begitu saja penuh rela untuk aku jelajahi dengan liar.

 

Hari itu menjadi lebih dari sekadar membahas biaya pendidikan. Itu adalah pengingat akan cinta yang kita miliki, meski dunia di sekitar kita sering kali terasa kelam. Di negara yang kaya akan sumber daya, di mana keindahan alam berlimpah dan kekayaan tersebar, masih banyak masyarakat yang terjebak dalam kemiskinan. Korupsi seolah menjadi budaya yang mengakar, menjadikan harapan tampak samar. Namun, di tengah segala kesulitan ini, kita menemukan kekuatan dalam cinta kita. Setiap detik yang kita habiskan bersama adalah investasi bagi masa depan anak-anak kita dan cinta kita sendiri. Di dalam pelukanmu, aku merasa ada harapan untuk suatu hari melihat dunia ini berubah, di mana cinta dan keadilan akan mengalahkan semua kepahitan.

 

Saat senja mulai menyapa, kita kembali ke dalam rumah. Anak kita berlari di depan, penuh keceriaan. Kita mengikuti dengan rasa syukur, tahu bahwa bersama-sama, kita bisa menghadapi apapun. Dari dalam hatiku, “kecantikanmu adalah alkohol paling memabukkan.” Gumamku perlahan, sembari mengulurkan tangan untuk kau genggam selalu. “Apakah setelah makan siang aku boleh mencintaimu?” Tambah rayuanku, berusaha mendapatkan tatapan hangatmu. Hari yang gerimis itu telah menjadi saksi perjalanan cinta kita yang tak akan pernah habis dan pudar. Bagiku, kau adalah alasan kenapa Tuhan menciptakan tujuan. Dan bagiku, kau adalah rumah, tempat di mana hatiku ingin selalu kembali.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *