Kupangonline.com, Kefamenanu – Sinergi antara Satuan Tugas (Satgas) Bais dan Satgas SGI bersama Pos Napan Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Barat Yonarmed 15/Cailendra berhasil menggagalkan upaya penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Timor Leste.
Dari hasil patroli itu, sebanyak 255 liter BBM berhasil diamankan dalam patroli gabungan di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (9/10/2026) malam hingga Sabtu dini hari.
Danpos Napan, Kapten Arm Andi Efrizal menjelaskan patroli gabungan dimulai pukul 22.00 WITA dengan briefing di Pos Napan. Pukul 23.30 WITA tim yang terdiri dari Satgas Bais TNI, Satgas SGI dan personel Pos Napan bergerak menuju Patok BSP No 65 dan Patok BSP Nomor 62.
“Sekitar pukul 00.30 WITA kami tiba di Patok BSP No 65 koordinat 9.364936°S, 124.379302°E, kami lakukan pengamatan dan penyisiran, hasilnya nihil,” kata Andi, dalam siaran pers yang diterima media ini, Jumat 9 Oktober 2026.
Andi Efrizal menjelaskan, tim kemudian bergeser ke Patok BSP Nomor 62 dan menemukan barang bukti yang telah disamarkan.
“Pukul 01.45 WITA saat penyisiran sekitar Patok BSP No 62 koordinat 9.358472°S, 124.380894°E jarak 50 meter dari patok, kami menemukan tumpukan barang yang disamarkan menggunakan dedaunan di semak-semak,” ungkapnya.
Lanjut dia, usai dilakukan pengecekan pada pukul 02.00 WITA, ditemukan 15 jerigen berisi BBM.
“Rinciannya 6 jerigen ukuran 35 liter dan 9 jerigen ukuran 5 liter. Total 210 liter Pertalite dan 45 liter minyak tanah. Total 255 liter,” ujar Andi.
Ia menambahkan, tim sempat menyisir sekitar lokasi untuk mencari pemilik, namun tidak ditemukan. Pukul 02.30 WITA barang bukti dibawa ke Pos Napan dan tiba pukul 02.45 WITA.
Andi mengatakan, modus penyelundupan ini memanfaatkan selisih harga yang cukup besar.
“Di RI nilai BBM tersebut hanya Rp 2.425.000, dengan rincian Pertalite Rp 10.000 per liter total Rp 2.100.000 dan minyak tanah Rp 5.000 per liter total Rp 225.000,” urainya.
Namun jika berhasil masuk ke Timor Leste, harganya melonjak menjadi Rp 6.200.000. Pertalite di RDTL sekitar USD 1,30 atau Rp 21.000 per liter total Rp 4.410.000 dan minyak tanah USD 2 atau Rp 35.600 per liter total Rp 1.602.000.
“Selisih harga ini jadi pendorong penyelundupan. Modus penyamaran dengan dedaunan menunjukkan upaya menghindari deteksi aparat,” jelasnya.
Ia menambahkan patroli gabungan ini tergabung didalamnya antara lain Satgas Bais TNI, Satgas SGI bersama Pos Napan merupakan langkah preventif dan represif terbatas untuk mencegah aktivitas ilegal di jalur tidak resmi.
“Barang bukti sementara diamankan di Pos Napan sambil menunggu keputusan Dansatgas Sektor Barat. Kami akan tingkatkan patroli berkala di titik rawan Patok BSP 62, BSP 65 dan jalur tikus lainnya,” pungkas Kapten Arm Andi Efrizal. (*)








