BeritaPemerintahan

Realisasi PAD Masih Rendah, Ada OPD Yang Belum Sampai 1 Persen

×

Realisasi PAD Masih Rendah, Ada OPD Yang Belum Sampai 1 Persen

Sebarkan artikel ini

Ket. Foto: Kepala Bapenda Kabupaten TTS, Aba Anie

Laporan Reporter SUARA TTS. COM, Dion Kota

SUARA TTS. COM | SOE – Realisasi pendapatan asli daerah (PAD) Pemda TTS Tahun 2022 masih sangat rendah. Dari target 110 Miliar, hingga per 30 Agustus, realisasi baru mencapai Rp. 27.767.126.176 atau 25,24 persen. Mirisnya, masih ada OPD yang realisasi PAD-nya di bawah 1 persen.
Dinas Kearsipan dan perpustakaan menempati posisi paling buncit. Dari target 1,5 Miliar hingga 30 Agustus realisasi baru menyentuh angka Rp. 8.957.500 atau 0,58 persen. Dinas Lingkungan Hidup, dari target Rp. 1.667.273.541, hingga 30 Agustus realisasi baru menyentuh angka 3.500.000 atau 0,21 persen. Dinas Perikanan, dari target Rp. 2.048.961.142, baru terealisasi Rp. 35. 106.700 atau 1,71 persen.
“ Memang masih ada OPD yang realisasi PAD-nya hingga akhir Agustus belum menyentuh 1 persen dari target,” ungkap Kepala Bapenda, Aba Anie kepada SUARA TTS. COM, Jumat 2 September 2022 di ruang kerjanya.
Sedangkan untuk OPD dengan realisasi PAD tertinggi hingga akhir Agustus ditempati Bapenda Kabupaten TTS yang mencapai 75,08 persen atau Rp. 8.191.806.238 dari target Rp. 10.910.916.250.
Ditempat kedua, ada Dinas Kesehatan dengan realisasi mencapai 53,3 persen atau Rp. 964.139.009 dari target Rp. 1.807.133.541
Posisi ketiga OPD dengan realisasi tertinggi ditempati RSUD Soe dengan Rp. 7. 151.988.243 atau 26,59 persen dari target Rp. 26. 899.087.010.
Waktu yang masih tersisa empat bulan dikatakan Aba, akan dimaksimalkan untuk bekerja mengejar target PAD tersebut. Namun ia mengakui, jika target yang ditetapkan bersama DPRD TTS tersebut terlampau tinggi.
Secara normatif, dalam penentuan besaran target PAD harusnya berpatokan pada realisasi target PAD tahun sebelumnya. Sedapatnya naik 10 persen dengan melihat potensi PAD yang ada.
“ kalau mau jujur target kita memang terlampau terlalu tinggi,” ujar Aba
Menurut Kepala Badan Koordinator PAD ini, ada beberapa alasan mengapa realisasi PAD sulit tercapai. Pertama, penetapan target PAD yang tidak dilakukan secara baik melalui analisis terhadap potensi yang ada di setiap OPD. Kedua, Intensifikasi dan ekstensifikasi dalam pengelolaan PAD belum dilakukan secara baik. Ketiga, adanya perubahan regulasi atau adanya aturan lokal yang sudah harus diubah tapi belum dilakukan perubahan. Keempat, Inovasi dan kreativitas yang belum maksimal dilakukan oleh masing-masing OPD. Kelima, aspek manajerial tata kelola yang belum dilakukan secara maksimal dan keenam, aspek pengendalian dan pengawasan yang belum maksimal.
“ Ada beberapa faktor yang menyebabkan realisasi PAD kita belum mampu mencapai target. Oleh sebab itu, kedepan perlu dilakukan evaluasi secara baik guna di masa mendatang kita mampu mencapai target PAD,” terangnya. (DK)

Editor : Erik Sanu

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemprov NTT Lakukan Gerakan Pangan Murah Di Kabupaten TTS Kupangonline.com,KUPANG— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Perum Bulog serta Bank NTT Cabang Soe menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sejak Kamis (16/5/24) hingga Jumat (17/5/24) lalu di sejumlah titik di Kabupaten TTS. Adapun GPM ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda yakni di Kelurahan Cendana Kecamatan Kota Soe dan di Desa Taneotob yang juga diikuti oleh masyarakat Desa Noebesi yang terletak di Kecamatan Nunbena sejak Kamis (16/5) hingga Jumat (17/5/24). GPM ini menyediakan sejumlah kebutuhan pokok masyarakat dengan rincian di Kelurahan Cendana Kecamatan Kota Soe, 5.000 Kg Beras Medium, 200 Kg Beras premium, 100 Kg Gula Beras Kita, 20 Kg tepung, 20 Kg Bawang merah dan Bawang putih, Minyak Goreng Selfie 90 Liter, Minyak Goreng Damai 60 Liter, Minyak goreng kita 240 Liter. Sedangkan Desa Taneotob dan Desa Noebesi yang terletak di Kecamatan Nunbena dengan rincian 2.000 Kg Beras, 60 Botol minyak goreng dan 50 Kg Gula pasir dan 100 paket sembako yang terdiri atas beras dan gula pasir oleh Bank NTT Cabang Soe. Kegiatan GPM telah menjadi agenda Pemprov NTT yang terus digelar di seluruh Kabupaten/Kota di NTT dalam rangka pengendalian Inflasi untuk menjaga stabilitas pasokan harga pangan yang cenderung naik akibat sejumlah faktor seperti gagal panen dampak perubahan iklim ekstrim hingga terjadinya kemarau panjang dan waktu panen Petani tidak menentu. Desa Taneotob, Kecamatan Nunbena merupakan salah satu desa yang turut menyebabkan tingginya angka inflasi di Kabupaten TTS. Bahkan untuk memasok bahan pangan serta sembako lainnya agar dapat memenuhi kebutuhan warga di desa itu butuh perjuangan keras, dikarenakan sulitnya akses jalan menuju wilayah desa tersebut dikarenakan harus melintasi sejumlah anak sungai. Untuk diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Inflasi di kabupaten tersebut pada bulan April 2024 (YoY) sebesar 1,83 persen. Melalui GPM yang secara terus menerus dilaksanakan oleh Pemprov NTT bekerjasama dengan para distributor terkait diharapkan dapat mengantisipasi daya beli masyarakat terhadap kebutuhan bahan pokok pangan dengan harga terjangkau dibawah harga pasar.( Tim )
Berita

  Kupangonline.com,KUPANG— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama…