Penulis
Willem Amu Blegur, S.Si., M.Sc (Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan UGM),
Sarci Magdalena Toy (Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS),
Krisantus Jumartho Tey Seran (Dosen PNS Universitas Timor)
—
Alam memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia – Kehidupan kita sangat bergantung pada alam. Kita akan menghirup udara dari alam, meminum air dari alam, memperoleh makanan dari alam dan terkadang membuang residu di alam. Secara sadar dan tidak, alam tersebut akan membentuk karakter kita. Kita teringat Bapak Genetika, Gregor Mendel yang menyampaikan dua faktor besar yang mempengaruhi makhluk hidup yaitu faktor dari dalam hal ini adalah genetik dan faktor dari luar yaitu lingkungan. Kedua faktor tersebut akan saling berinteraksi dengan sangat erat dan membentuk karakter makhluk hidup baik itu hewan, tumbuhan dan manusia bahkan mikrobia.
Alam kami berbeda dan unik – Kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar kita dan kehidupan kita juga akan mempengaruhi lingkungan di sekitar kita (saling mempengaruhi). Cara orang tua memperlakukan kita, cara teman bergaul dengan kita atau pun kehidupan dalam kelompok masyarakat dengan berbagai tata aturan (norma, hukum adat dan peraturan yang lain) akan mempengaruhi kepribadian kita. Sebaliknya kita akan berkontribusi bagi kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita tersebut. Apabila ditinjau dari aspek alam, cuaca dan suhu lingkungan yang panas akan mempengaruhi warna kulit kita, akan mempengaruhi kebiasaan minum kita dan berbagai pengaruh yang lain. Sekali lagi bahwa kita juga mempengaruhi lingkungan seperti suka menebang pohon sehingga tidak ada penyerap panas, suka membakar sampah sehingga udara dipenuhi gas karbon dioksida dan contoh perilaku yang lain.
Keadaan saling mempengaruhi ini akan terlihat dalam saling bergantung (interdependency) dan saling mempengaruhi (intercorrelation). Kedua relasi tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Keadaan ini akan menciptakan peluang bagi kita untuk lebih mengoptimalkan kemampuan yang sudah ada sebagai pemberian TUHAN dan dapat mengoptimalkan kemampuan sesama serta kemampuan alam. Kita wajib bersyukur untuk keadaan tersebut.
Perbedaan dan persamaan lingkungan geografisik dan ekologis akan sangat mempengaruhi interdependency dan intercorrelation manusia dengan alam dan alam dengan manusia serta manusia dengan manusia lainnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia dianugerahi TUHAN dengan kekayaan yang berlimpah dalam berbagai perbedaan dan persamaan geofisik dan ekologis. Kita memiliki tambang minyak di Kalimantan, gas bumi di Jawa Tengah, emas di Papua, berbagai jenis keanekaragaman potensi hayati di hutan Kalimantan, hutan Sumatera, pohon cendana di Nusa Tenggara, Komodo di NTT, Anoa di Sulawesi, Burung Jalak di Bali dan masih banyak kekayaan yang wajib kita syukuri dan kelola dengan baik serta lestari. Kekayaan ini ditambah lagi dengan kekayaan budaya Indonesia yang sangat berlimpah, terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Sangir sampai Pulau Rote.
Daerah NTT merupakan suatu gugusan kepulauan yang unik dalam gugusan kepulauan Indonesia dan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada lima pulau besar yaitu Flores, Sumba, Timor, Lembata, Alor (Flobamora) dan sejumlah pulau kecil lainnya. Lokasi ini beriklim tropis kering, 20 kabupaten dan 1 kota, kepadatan penduduk 101 jiwa/km² (Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kemkes RI: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Badan PPSDMK, Pusat Data dan Informasi), akan saling mempengaruhi kehidupan masyarakat NTT. Berbagai hal tersebut menciptakan hubungan kekerabatan yang erat, pola pergaulan dengan bahasa-bahasa lokal (adat), semangat kekeluargaan, ilmu pengetahuan dan teknologi lokal, kearifan lokal dan budaya lokal yang unik, variatif dan potensial. Pengelolaan perbedaan dan persamaan yang ada secara bijaksana dan berkelanjutan akan sangat baik bagi kesejahteraan masyarakat NTT.
Perbedaan dan persamaan lingkungan juga ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta yaitu memiliki sembilan bentang lahan secara pembentukkan yaitu vulkanik, struktural, fluvial, karst, marine, eolin, organik, denudasional dan antropogenik (Langgeng, 2006). Keistimewaan tersebut dilengkapi dengan kekayaan budaya Jawa sebagai latar belakang dan sebagai potensi kekayaan. Keistimewaan berbagai hal itu menciptakan hubungan kekerabatan yang erat, pola pergaulan dengan bahasa-bahasa lokal (adat), semangat kekeluargaan, ilmu pengetahuan dan teknologi lokal, kearifan lokal dan budaya lokal yang unik, variatif dan potensial. Pengelolaan perbedaan dan persamaan yang ada secara bijaksana dan berkelanjutan akan sangat baik bagi kesejahteraan masyarakat Yogyakarta. Perbedaan dan persamaan tersebut adalah potensi yang perlu dikelola dengan baik dan lestari.
Tandjung dan Gunawan (2006) menyatakan bahwa komponen manusia dan berbagai perilaku akan mempengaruhi alam dan manusia yang lainnya. Kelompok manusia yang produktif adalah pemuda dan pemudi. Para pemuda dan pemudi sebagai generasi penerus bangsa, kelompok yang akan meneruskan roda kemajuan suatu bangsa. Bung Karno pernah mengeluarkan satu pernyataan luar biasa: “Berikanlah aku 10 pemuda terdidik maka aku akan mengguncang dunia”. Pemikiran ini sudah ada lama sejak zaman pemerintahan Babel. Kita tentu mengingat tindakan yang dilakukan oleh Raja Nebukadnezar ketika menaklukkan Yerusalem. Raja Nebukadnezar bertitah kepada Asypenas, kepala istana untuk menyeleksi dengan ketat orang-orang muda berpengetahuan dan cakap ilmu serta baik kelakuannya untuk bekerja di istana Babel. Terpilihlah Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Keempat orang muda yang memiliki hikmat dan pengetahuan serta karakter melebihi orang muda lain di istana Babel.
Para orang muda yang terdidik dengan karakter unggul akan menciptakan generasi unggul dan berdampak pada bangsa dan negara yang unggul. Keterwakilan suatu daerah dapat dimunculkan oleh para pemuda dan/atau pemudi yang berasal dari daerah tersebut. Penciptaan NTT yang unggul dimulai dari penciptaan generasi yang unggul. Penciptaan generasi NTT yang unggul dimulai dari penciptaan pemuda dan/atau pemudi yang unggul. Salah satu aspek penting untuk menciptakan pemuda dan/atau pemudi yang unggul adalah melalui dunia pendidikan. Kesadaran ini menjadikan para pemuda dan/atau pemudi yang berasal dari NTT “berlayar” dari NTT ke kota pelajar, Yogyakarta. Para pemuda dan/atau pemudi tersebut dikenal dengan para mahasiswa dan/atau mahasiswi yang berasal dari NTT.
Keistimewaan dalam berbagai perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh Yogyakarta akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat yang mendiami Yogyakarta. Salah satu komponen masyarakat adalah mahasiswa dan/atau mahasiswi NTT. Para penuntut ilmu ini bermigrasi sementara ke kota Yogyakarta untuk memperoleh ilmu, keterampilan dan kemampuan yang diharapkan menjadi “bekal” untuk dapat mengembangkan potensi yang diberikan TUHAN. Sebagai salah seorang mahasiswa asli NTT, berikut penulis akan memberikan beberapa poin sharing dengan harapan poin-poin sharing ini dapat menjadi media berbagi pengalaman sebagai warga NTT yang dibentuk dengan pola pendidikan tegas untuk dapat berakulturasi dan berasimilasi dengan kebudayaan Yogyakarta yang berhati nyaman.
Pertama kali penulis menginjakkan kaki di kota Yogyakarta pada dini hari jam 4 tertanggal 10 Juli 2003. Kemurahan TUHAN yang selalu nyata sehingga penulis bersama Ayah dan seorang teman dapat sampai dengan selamat dan sempat bermalam di salah satu keluarga asli Yogyakarta. Perkenalan ini pun terjadi secara tidak sengaja karena Pak Dokter Harry diperkenalkan oleh salah seorang teman kantor Ayah penulis. Kami bertiga sangat dibantu oleh keluarga Pak Dokter Harry yang memperkenalkan tentang berbagai pilihan kampus, lokasi-lokasi strategis seperti gereja, pasar, kantor pos dan lain sebagainya. Selain itu, diperkenalkan juga makanan khas Yogya seperti Gudeg Yogya dan diajarkan beberapa bahasa Yogya yang konon berbeda penggunaannya dalam pergaulan terdapat perbedaan tergantung pada teman bicara: apakah teman, orang tua ataukah orang yang dituakan. Kami juga menceritakan kepada Pak Dokter Harry tentang bahasa, dialek, makanan khas, kebiasaan orang-orang NTT. Kami saling berbagi.
Setelah melewati serangkaian tes masuk dan memilih beberapa pilihan kampus maka penulis memilih kampus Universitas Kristen Duta Wacana sedangkan teman penulis, Hilarius D yang akrab dipanggil Aris memutuskan untuk melanjutkan di kampus Universitas Katolik Atma Jaya. Kami berdua memilih jurusan yang sama Biologi, namun berbeda kampus. Pergaulan kami semakin diperluas dengan memiliki banyak teman baru yang berasal dari kota-kota di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dan dari Sangir sampai Pulau Rote. Penulis akan lebih memfokuskan sharing penulis terkait kehidupan akademik dan non akademik di Universitas Kristen Duta Wacana dan lingkungan tempat tinggal, ada beberapa poin yang penulis peroleh setelah kurang lebih 50 bulan di tanah yang berhati nyaman. Berikut poin-poin penting yang perlu penulis sharingkan kepada semua pembaca secara khusus rekan-rekan dan adik-adik yang berasal dari NTT.
Persamaan dan Ketidaksamaan NTT dengan Yogyakarta
- Kedua daerah ini memiliki potensi generasi muda yang banyak dan tersebar sesuai lokasi kelahiran. Para pemuda yang bersemangat dan tidak mudah putus asa untuk mencari nafkah atau berjuang mengelola lahan sehingga menghasilkan barang dan/atau jasa untuk mendukung kehidupan yang ada di daerah tersebut. Seandainya boleh memilih maka mungkin ada pemuda yang ingin dilahirkan di daerah Sleman dan kota Yogyakarta yang kaya air dan tanah yang produktif daripada di daerah Gunungkidul yang memiliki kekurangan air dan kemiskinan unsur hara tanah. Jika dapat meminta maka mungkin ada pemuda yang ingin dilahirkan di Kota Kupang yang kaya dengan air atau di Ende yang punya kekayaan danau tiga warna dan berhawa sejuk daripada di daerah Sumba yang hampir selalu mengalami kekeringan pada beberapa daerah tertentu. Tapi, kondisi ekstrem ini oleh beberapa pemuda telah menjadi faktor pendorong untuk mengembangkan diri dan potensi alam sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat di sekitar.
- Persamaan dalam memperlakukan orang tua atau orang yang dituakan dalam masyarakat. Penulis melihat cara orang NTT menghormati orang tua dengan mencium tangan orang tua (Larantuka), mencium hidung (Sabu), memberikan kesempatan mengambil makan dan minum duluan kepada orang yang lebih tua atau dituakan (seluruh daerah NTT). Hal ini penulis amati terjadi di Yogyakarta bahkan dalam penggunaan bahasa akan tampak dengan jelas. Bahasa kepada teman sepermainan akan berbeda dengan kepada kakak, orang tua, orang yang dituakan sampai pada bahasa di lingkungan Keraton Yogyakarta. Berbagai cara ini menunjukkan cara dan makna yang sangat tinggi dalam berbudaya sopan dan santun.
- Penulis termasuk orang yang mudah beradaptasi. Ini bukan sombong. Hampir sebagian teman-teman penulis sering mengeluhkan makanan dan minuman yang ada di Yogyakarta. Beberapa keluhan yang masih terekam seperti: a) “semua makanan nie, dong su buat manis abis” (hampir semua makanan ditambah gula). b) “teh cuma satu gelas ma dong sese gula sampai 3 sendok pono” (hanya untuk teh yang satu gelas dimasukkan gula sampai 3 senduk makan penuh). c) “Kaka e….daun pepaya sa su jadi manis ow” (Aduh Kakak…..sampai daun pepaya terasa manis). Masih banyak lagi yang diutarakan terkait makanan dan minuman. Sebaliknya teman-teman asli Yogyakarta mengeluhkan jagung titi Larantuka yang terasa keras, jagung bose Timor yang terasa kental, dan kopi Manggarai yang membuat jantung berdegup kencang. Dalam beberapa ketidaksamaan selera makan dan minuman tersebut ternyata terjadi adaptasi yang luar biasa. Sekarang telah bermunculan makanan asli dari NTT seperti daging RW. Mungkin belum ada orang Yogya yang tertarik mengembangkan bakpia atau gudeg di NTT, padahal setiap mahasiswa yang pulang dari Yogyakarta maka oleh-oleh wajib adalah bakpia dan gudeg. Berbeda dengan batik Yogyakarta yang sudah tersebar dengan luas di NTT.
- Orientasi tempat pun menjadi keluhan saat menanyakan arah ke Malioboro dari UKDW. Jawabannya: “Mas ke Utara ketemu bangjo (persimpangan) pertama lalu ke Barat. Lurus terus aja sampai ketemu Tugu lalu ke Selatan”. Memang pengetahuan peta masyarakat Yogyakarta sangat tinggi bermodalkan titik ikat Gunung Merapi di arah Utara. Tapi, bagaimana dengan mahasiswa dari NTT yang berada di daerah bergunung, berlembah, berjurang dan laut. Mereka mengenal hanya: belok kiri dan belok kanan. Penunjuk jalan jarang menggunakan arah belok kiri dan kanan sedangkan penerima informasi kesulitan orientasi arah mata angin.
- Kebiasaan berkumpul dalam kumpulan dan semangat persaudaraan baik di Yogyakarta dan NTT masih terasa. Saat ada hajatan (pesta) atau kedukaan maka keluarga akan saling membantu seperti acara kumpu kao (Larantuka), isi buku (Timor, Sabu, Rote), antar beras (Manggarai). Makna kebersamaan yang baik ini di Yogyakarta pun terpelihara bahkan ada semboyan “mangan ra mangan seng penting ngumpul” (makan tidak makan yang penting kumpul bersama). Semboyan yang bila ditarik secara ekstrim dapat bermakna negatif seperti adanya kemalasan, walaupun untuk keseluruhan penduduk Yogyakarta merupakan penduduk yang rajin bekerja dan inovatif.
- Bahasa dan dialek dalam masyarakat Yogyakarta di daerah Sleman, kota Yogyakarta dan Bantul (Mantotul) memiliki bahasa Jawa yang seragam dengan perbedaan sedikit pada dialek dan ragam penggunaan sesuai lawan bicara. Hal ini tidak sama dengan masyarakat NTT yang setiap kabupaten dan kota hampir memiliki ragam bahasa dan dialek yang berbeda. Dialek unik yang terkesan keras dan cepat untuk awal akan sangat terdengar dalam berbicara pada mahasiswa NTT dibandingkan mahasiswa asli Yogyakarta yang lebih pelan. Kebiasaan untuk menyampaikan ide dan pendapat bahkan ketidaksukaan secara langsung telah menjadi salah satu ciri khas mahasiswa NTT dibandingkan mahasiswa asal Yogyakarta yang mungkin diperhalus atau dibungkus dengan sopan sehingga menurut mereka pesan tidak suka sudah tersampaikan sedangkan disalahtafsirkan oleh teman-teman dari NTT.
Potensi dan Tantangan
Penulis mengacu pada persamaan dan ketidaksamaan tersebut di atas sehingga dapat dianggap sebagai potensi untuk mengembangkan diri dan kelompok masyarakat sekaligus tantangan yang berdampak negatif jika disalah tafsirkan dalam pergaulan sehari-hari.
- Ragam dan dialek bahasa yang berbeda membuat teman-teman yang berasal dari Yogyakarta terkadang salah menafsirkan candaan yang disampaikan oleh teman-teman dari NTT. Kebiasaan “ceplas-ceplos” juga menjadi masalah. Bagi teman-teman dari NTT, jika ada kesalahan kata atau kalimat yang menyinggung akan langsung dibalas dengan candaan atau setidaknya ketidaksukaan pada isi candaan tersebut disampaikan dengan tujuan akan segera selesai permasalahan tersebut. Persahabatan akan segera kembali normal. Hal ini sedikit berbeda dengan teman-teman yang berasal dari Yogyakarta. Terkadang ketidaksukaan atau gangguan tersinggung atas candaan disimpan dan tidak disampaikan secara langsung sehingga teman-teman dari NTT merasa semuanya baik-baik saja tanpa masalah. Sekiranya disampaikan, terkadang dalam pemilihan bahasa yang “ambigu” dan tidak jelas sehingga maksud dan tujuannya tidak tersampaikan dengan jelas sehingga masalah tetap ada dan dapat menjadi “gunung es” masalah dalam pergaulan mereka.
- Pengelompokan dalam pergaulan sehingga ada kesan eksklusivisme. Teman-teman dari NTT hanya memiliki teman-teman dari NTT dan sebaliknya teman-teman dari Yogyakarta hanya memiliki teman-teman dari Yogyakarta. Kelompok-kelompok seperti ini baik untuk mempererat persaudaraan sesama daerah dan saling tolong menolong berdasarkan kesamaan kota kelahiran. Ini adalah baik. Akan tetapi, akan menjadi tidak baik jika pada kelompok-kelompok tersebut hanya bergaul sesama mereka. Kegiatan yang ada hanya untuk kelompok mereka saja sehingga tidak ada pembauran budaya dan saling melengkapi dalam ketidaksamaan. Kelompok ini akan mempertajam jurang pemisah dan akhirnya kembali jika ada sedikit perbedaan dapat menjadi “bom waktu” permasalahan.
Tidak nyaman dengan sesama karena tidak nyaman dengan diri sendiri, tidak nyaman dengan diri sendiri karena tidak nyaman dengan TUHAN.
Tegas dalam Kenyamanan Hati – Saran Praktis
Penulis melihat bahwa dalam persamaan dan ketidaksamaan tersebut menjadi potensi positif sampai pada tantangan yang menjadi permasalahan yang unik. Setelah melewati semuanya maka beberapa saran yang bisa penulis berikan dengan latar belakang NTT yang tegas dalam kenyamanan hati Yogyakarta sebagai berikut:
- Hiduplah dalam damai dengan TUHAN-mu, damai dengan diri sendiri dan damai dengan sesama. Bukan masalah tentang jenis agama atau kepercayaan yang kita anut, tapi penulis yakin bahwa semua ajaran agama dan aliran kepercayaan sudah mengajarkan tentang kedamaian. Pendekatan diri kepada TUHAN dan mau untuk menerima diri pribadi dalam kelebihan dan kekurangan akan menjadikan kita lebih menikmati hidup dalam keberagaman latar belakang. Kota Yogyakarta memiliki kota dengan tampungan terhadap 5 agama dan aliran kepercayaan yang diakui negara, penduduk dari berbagai macam daerah termasuk NTT dengan berbagai latar belakang.
- Membaur dalam pergaulan baik individu dan kelompok maka pilihlah kelompok yang multietnis. Rasa persaudaraan berdasarkan sesama satu daerah adalah benar, tapi bukankah kita juga semua adalah pemuda dan/atau pemudi yang satu tanah air, satu tumpah darah, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan? Bukankah kita semua penganut ajaran Pancasila yang walaupun berbeda-beda, tapi tetap satu? Kita semua ber-Bhinneka Tunggal Ika. Kelompok daerah untuk mendukung rasa persaudaraan kita sehingga kita akan saling mendukung sebab berasal dari NTT dengan persamaan makanan, bahasa dan budaya akan semakin sempit jika hanya untuk NTT. Demikianlah pula jika Yogyakarta dan hanya Yogyakarta. Marilah membaur dengan kelompok etnis atau daerah yang lain. Penulis teringat ketika diajarkan menggunakan bahasa Jawa (kasar dan halus). Sepulangnya ke NTT, daerah Larantuka penulis mempraktekkan bahasa Jawa yang mungkin akan terdengar “aneh”. Ternyata sambutan dari para penjual pakaian yang adalah dan bertanya: “kok isa Mas?”. Sambil tertawa kecil penulis membalas: “Yo isalah lah Mas/Mba. Kulo sinawum karo konco kulo wong Kudus. Ojo larang-larang yo Mas/Mba”. Walaupun bukan potongan harga sebagai hasil utama dalam diskusi tersebut, tapi persahabatan yang terjalin membuat kita saling mengenal dan mencoba untuk memahami satu dengan yang lain.
- Memilih kamar kos yang multi etnis. Saat pertama kali mencari kamar kos, penulis dicarikan oleh Istri dokter Harry satu kamar kos di daerah Sagan. Pemilik kos adalah seorang ibu yang santun dan suka melucu. Ibu Darsih. Beliau senang sekali diajak bercanda dan mau mengajarkan beberapa bahasa Jawa. Warga kos pun berasal dari Sragen, Kupang, Bajawa, Pati dan Jakarta. Kami dapat berbagi cerita hidup dan budaya. Pengetahuan tentang kekayaan Indonesia lewat cerita hidup dan budaya dibagikan di sana. Penulis juga dapat berkomunikasi dengan para penjual di warung dengan bahasa Jawa. Hanya bermodalkan bahasa Jawa yang “aneh”, Ibu pemilik warung sempat mengizinkan penulis untuk “ngutang nasi” karena lupa membawa uang. Namun, penulis segera melunasi pada besok. Banyak pengalaman yang dapat kita terima dan kita bagikan kepada teman-teman dan kepada pemilik kos. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita juga perlu sopan dan santun kepada pemilik kos. Penulis sering menggunakan bahasa Jawa yang penulis pelajari dengan Ibu kos dan teman-teman. Komunikasi yang sopan dan santun akan menciptakan kenyamanan suasana kos bersama Ibu kos dan teman-teman kos. Penulis memang suka mendengarkan musik bersama kakak kos yang berasal dari Kupang dan Bajawa. Tapi, kami menyetel suara tape dengan volume yang terukur. Boleh pada pagi jam 9-an dengan volume agak keras, hanya jika sudah jam tidur siang atau jam tidur malam maka volume suara tape diperkecil. Jika ada tamu maka jika memungkinkan tamu tersebut diperkenalkan dengan Ibu kos. Walaupun adalah saudara kandung atau teman dekat perlu disampaikan kepada Ibu kos, apalagi jika sampai menginap di kos.
- Menumbuhkan jiwa wirausaha. Penulis memperhatikan bahwa anak-anak di Yogyakarta ini sejak kecil sudah ditumbuhkan jiwa wirausaha. Bukannya rasis, tapi jika teman-teman perhatikan bahwa anak-anak Tionghoa sejak kecil sudah diajarkan menjaga toko baik melayani pembeli atau menerima dan mengembalikan uang belanjaan. Hal ini juga dilakukan oleh teman-teman dari Yogyakarta. Jiwa wirausaha sudah ditanamkan sejak dini. Penulis berpikir bahwa perlu ada kejujuran mengakui jika di daerah NTT, anak-anak masih kurang ditanamkan jiwa wirausaha. Terlepas bahwa belajar sebagai tugas utama, terkadang anak-anak lebih suka bermain atau berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Kebiasaan inilah yang akan mempengaruhi kehidupan di masa dewasa. Teman-teman dari NTT secara umum lebih suka berkumpul untuk bersenang-senang dan bermain. Kurang optimal dalam memanfaatkan waktu. John Maxwell pernah berkata bahwa orang miskin, orang kaya, orang pintar, orang bodoh atau siapa pun diberikan waktu oleh TUHAN dengan adil yaitu tepat 24 jam; tidak lebih dan tidak kurang. Orang yang dapat mengoptimalkan 24 jam akan sukses dalam hidup.
Bagi teman-teman yang sudah menyelesaikan perkuliahan maka mulailah berwirausaha. Waktu yang lebih tepat adalah adanya kesiapan teman-teman ditambah dengan kesempatan yang tepat. Mungkin sebelum lulus sudah mempersiapkan diri untuk berwirausaha. Mulailah dengan perencanaan dan lakukanlah dengan tanpa mengenal putus asa bersama bantuan orang-orang yang berkepentingan. DUIT = Doa, Usaha, Iman dan Takwa. Jika teman-teman sudah ingin menjadi seorang pelayan masyarakat seperti PNS, maka siapkan diri yang terbaik dan jika sudah menjadi seorang PNS diharapkan menjadi seorang PNS yang produktif, adaptif dan bertanggung jawab. Teman-teman bisa menghasilkan sesuatu pekerjaan yang memberikan manfaat kesejahteraan, disesuaikan dengan kondisi lokal dengan berbagai tantangan dan dukungan dan setelah dilakukan dapat mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan tersebut. Bukan rahasia lagi bahwa PNS dijadikan “pelarian” sebab memberikan “kenyamanan dan kemudahan” dalam bekerja oleh kebanyakan pekerja dari NTT. Itu baik, tapi lakukanlah semuanya dengan terbaik seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia.
- Marilah kita bersama-sama untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa dan/atau mahasiswi. Selanjutnya dengan kemampuan dan keterampilan yang sudah dimiliki lalu kita bersama-sama berkontribusi untuk pembangunan yang berkelanjutan di NTT. Teman-teman dapat bergabung di komunitas FAN (Forum Akademika NTT) atau dengan relasi yang teman-teman miliki untuk memberikan masukan buat para pemangku dan pengambil keputusan di NTT (shareholders). Kita semua mengangkat citra NTT sehingga dikenal dengan lulusan UN yang lebih baik, provinsi yang tidak miskin penduduknya, provinsi yang para pejabatnya memiliki moral yang baik dan memberikan kontribusi untuk memajukan Indonesia.
Pencapaian beberapa hal di atas akan tercapai jika kita semua bekerja bersama-sama dengan kapasitas masing-masing dan dimulai dari diri sendiri serta dimulai sekarang. Mari memulai dengan kebiasaan-kebiasaan positif seperti selalu datang kuliah dan tepat waktu, selalu mengerjakan tugas-tugas dari dosen dengan yang terbaik (tidak copy paste tapi boleh sebagai acuan dari tugas yang lama), menaati peraturan lalu lintas seperti menggunakan helm (kecuali dalam keadaan darurat dan benar-benar tidak ada helm sama sekali). Kebiasaan positif lain yaitu untuk mempererat semangat kekeluargaan lewat duduk bercerita bersama dan bertukar informasi jika dibarengi dengan “minum” hendaklah dikurangi atau dikondisikan sehingga hasil yang ada memberikan manfaat positif dan bukan negatif. Kami juga meminta teman-teman cewek yang berasal dari NTT untuk memberikan saran, pendapat, kritik dan larangan kepada saudara-saudara atau mungkin juga pacar yang berasal dari NTT sehingga bersama-sama kita menumbuhkembangkan kebiasaan-kebiasaan positif dan mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang memberikan “image” negatif tentang mahasiswa dan/atau mahasiswi NTT, tentang daerah tercinta NTT kita bersama.












