Uncategorized

Bukan Sekadar Kunjungan: Harapan Baru Warga Perbatasan Alor Timur, dari Kemudahan Paspor hingga terbentuknya Desa Binaan Imigrasi dan Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA)

16
×

Bukan Sekadar Kunjungan: Harapan Baru Warga Perbatasan Alor Timur, dari Kemudahan Paspor hingga terbentuknya Desa Binaan Imigrasi dan Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA)

Sebarkan artikel ini

 

Kupangonline.com,MARITAING, ALOR TIMUR* – Angin segar berembus bagi masyarakat di wilayah maritaing yang berbatasan Indonesia-Timor Leste. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), didampingi Wakil Bupati Alor dan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Imigrasi NTT, melakukan kunjungan kerja yang ke Kecamatan Alor Timur, tepatnya di Maritaing.

Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Rombongan secara langsung meninjau Pos Pemantauan Imigrasi dan berdialog intensif dengan Camat, Lurah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta tokoh pendidikan setempat. Tujuan utamanya adalah merespons langsung permasalahan keimigrasian, pelintas batas tradisional, sekaligus mengevaluasi kondisi sosial-ekonomi dan infrastruktur di wilayah yang selama ini terisolasi.

Wakil Gubernur NTT menegaskan bahwa kehadiran pemerintah adalah untuk memastikan negara hadir di titik terluar. “Kami ingin mendengar langsung permasalahan yang dihadapi masyarakat Alor Timur, khususnya Maritaing yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Tentu ada hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten maupun provinsi, dan jika perlu intervensi pusat, kami akan sampaikan,” ujarnya saat membuka dialog.

Salah satu momen paling bersejarah dalam kunjungan ini adalah peresmian Beranda Imigrasi. Wakil Bupati Alor menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terobosan ini, mengingat selama ini warganya harus mengurus paspor hingga ke Kupang atau Surabaya. “Dulu kalau kita mau urus paspor itu susah setengah mati, harus ke Surabaya, bolak-balik berhari-hari. Tetapi hari ini, dengan hadirnya imigrasi di Alor, itu sesuatu yang menurut saya ajaib. Ini sangat mempengaruhi pariwisata kita,” ungkapnya penuh semangat.
Dalam kesempatan yang sama Tokoh masyarakat setempat, Roky, mengungkapkan rasa syukurnya atas kunjungan pemerintah yang dianggap sebagai bentuk perhatian nyata setelah sekian lama terisolasi. “Kami punya hubungan keluarga erat dengan Timor Leste. Dulu kami hanya bermodal KTP dan lewat jalan tikus, selalu dihantui rasa takut. Dengan adanya layanan imigrasi ini, kami berharap bisa melintas dengan aman dan legal,” ungkapnya penuh harap.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Imigrasi NTT menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melakukan pelayanan jemput bola, tidak lagi menunggu masyarakat datang ke kantor. “Kami siap memberikan paspor. Kami yang datang, kami bawa alatnya. Bapak Ibu tidak usah pusing lagi. Ini adalah wujud negara hadir untuk memfasilitasi dan meneritbkan administrasi, bukan untuk menghukum,” tegasnya.

Meski demikian, sebagai garda terdepan, Kepala Kanwil mengakui adanya tantangan terkait Pas Lintas Batas (PLB). “Kami memberikan PLB gratis, namun sayangnya PLB ini tidak berlaku di negara tetangga karena mereka mewajibkan paspor resmi dan harus melintas di PLBN. Untuk itu, kami mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menggunakan jalur tidak resmi atau ‘jalan tikus’ yang berisiko,” jelasnya.

Dalam dialog tersebut, berbagai permasalahan mendasar mencuat. Tokoh masyarakat menyoroti harga bahan bakar minyak (BBM) di Maritaing yang melambung hingga Rp30.000 per liter, memukul sektor perikanan yang menjadi mata pencaharian utama. Selain itu, krisis tenaga pendidik di sekolah swasta turut menjadi sorotan. Wakil Gubernur merespons dengan menjanjikan perbaikan jalan dan tiga jembatan strategis pada tahun 2027.

Wakil Bupati Alor menambahkan harapannya agar sinergi antar lembaga terus berjalan. “Pemda Alor sangat mendukung. Kami berharap langkah fokus pemerintah ini membawa kemajuan dan perubahan positif bagi tanah leluhur kami,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Imigrasi NTT menegaskan komitmennya untuk membangun desa binaan imigrasi (DBI) dan menghadirkan petugas imigrasi Pembina desa (PIMPASA) guna mengedukasi masyarakat perbatasan. “Ke depan, kantor imigrasi akan buka setiap hari. Kami juga akan menugaskan Pimpasa (Pegawai Imigrasi Pembina Desa) agar masyarakat yang tadinya melintas tidak resmi bisa menjadi resmi,” tandasnya.

Kunjungan ini membuktikan bahwa sinergi multi-level pemerintahan, ditambah dengan partisipasi aktif tokoh adat dan masyarakat, menjadi kunci utama untuk membangun Alor Timur yang aman, tertib, dan sejahtera.(Xx)