klik X untuk tutup iklan ini
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Politik

BNPT RI komitmen perkuat identifikasi manajemen risiko

×

BNPT RI komitmen perkuat identifikasi manajemen risiko

Sebarkan artikel ini
Example 468x60




Jakarta (BERITA CALEG) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI berkomitmen memperkuat identifikasi manajemen risiko, mengingat semua kebijakan penanggulangan terorisme memiliki kemungkinan terjadinya risiko.

“Setiap kebijakan, aktivitas kita mengandung risiko, maka penting untuk mengukur atau memperkuat manajemen risiko,” kata Sekretaris Utama BNPT RI Bangbang Surono dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Selasa.

Example 300x600

Bangbang mengatakan identifikasi manajemen risiko selaras dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Peraturan itu, kata dia, mengatur seluruh kementerian/lembaga/daerah wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah.

Baca juga: BNPT: Sumpah Pemuda Ke-95 momentum bangun semangat kerja kolaboratif

Baca juga: BNPT nilai masyarakat sipil berperan penting dalam implementasi RAN PE

“Melalui penerapan unsur-unsur SPIP yang meliputi lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan pengendalian internal yang dilaksanakan menyatu dan menjadi bagian integral dari kegiatan di lingkungan kementerian/lembaga/daerah,” sambung dia.

Sementara itu, Inspektur BNPT RI Catur Iman Pratignyo mengatakan bahwa manajemen risiko lintas sektor diharapkan yang berkaitan dengan penanggulangan terorisme, di samping memperkuat risiko lingkup internal.

“BNPT harus mengampu manajemen risiko tingkat sektor dalam penanggulangan terorisme. Harus kita rumuskan bersama dengan TNI, Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan instansi terkait lainnya,” kata Cartur.

Direktur Deradikalisasi BNPT RI Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid menjelaskan bahwa dalam perspektif intelijen, manajemen risiko disebut sebagai teori prediksi antisipasi.

“Beragam risiko mungkin terjadi, mulai dari terjadinya aksi terorisme yang berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat hingga konflik sosial. Maka kalau sudah ada prediksi perlu diminimalisir risiko,” papar Ahmad.

Ketiganya menyampaikan pernyataan itu dalam kegiatan diskusi kelompok terpumpun atau ‘focus group discussion’ (FGD) kebijakan strategis manajemen risiko terintegrasi berbasis teknologi informasi di lingkungan BNPT RI di Kantor Pusat BNPT RI Sentul, Jawa Barat, Selasa.

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © BERITA CALEG 2023

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *