BeritaPendidikan

Dari Ladang ke Kampus: Perjalanan Muhadrin Syamsudin Raih Magister Tafsir Hadis

300
×

Dari Ladang ke Kampus: Perjalanan Muhadrin Syamsudin Raih Magister Tafsir Hadis

Sebarkan artikel ini







Kupangonline.com-Jakarta – Lahir dari keluarga sederhana di Desa Leuwohung Kecamatan buyasuri Kedang, Kabupaten Lembata, pada 17 Juni 1998, Muhadrin Syamsudin, SH., M.Ag., menorehkan kisah inspiratif tentang perjuangan menuntut ilmu. Anak seorang petani dengan penghasilan di bawah rata-rata ini berhasil menembus pendidikan tinggi hingga meraih gelar Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir konsentrasi Hadis.

Sejak kecil, Muhadrin ditempa dengan keterbatasan. Pendidikan dasarnya dimulai dari SD hingga SMA di tanah kelahirannya, Kedang, sebelum akhirnya merantau ke Jakarta. Tahun 2017, ia menempuh studi S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Program Studi Perbandingan Mazhab, dan sukses meraih gelar sarjana pada 2022. Tidak berhenti di situ, ia langsung melanjutkan ke jenjang S2 Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dengan konsentrasi Hadis. Perjalanan panjang itu akhirnya berbuah manis dengan kelulusan pada 2025.

Meski orangtuanya tidak pernah mengenyam bangku sekolah, Muhadrin justru mematahkan batas itu. Baginya, pendidikan bukan sekadar gelar, tetapi juga akhlak.

“Bagian penting dari pendidikan adalah kita mempunyai etika dan moral yang baik,” ungkapnya.

Keinginan membanggakan orangtua menjadi motivasi terbesarnya.

“Saya untuk membanggakan orangtua saya harus studi sampai setinggi mungkin,” tegas Muhadrin.

Selama menempuh pendidikan di ibu kota, Muhadrin tak hanya fokus di ruang kuliah. Ia juga mengabdikan diri sebagai marbot masjid, imam, sekaligus guru ngaji di Masjid Al-Muhajirin, Asrama Polisi Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Dari aktivitas itu, ia tidak hanya menguatkan ilmu, tetapi juga memupuk karakter kepemimpinan, kesabaran, dan kepedulian sosial.

Kisah Muhadrin adalah potret nyata perjuangan anak desa yang menembus keterbatasan dengan tekad, doa, dan kerja keras. Ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang berkelimpahan, tetapi juga bagi siapa pun yang berani bermimpi dan berusaha.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *